Neetip Fasilitasi Pengguna yang Ingin Menitip Barang dari Pelancong

TechinAsia

03-12-2016

Neetip

Melihat peluang dari kegiatan yang dilakukan pelancong ke berbagai belahan dunia maupun kota Antonius Stefanus terdorong untuk membangun Neetip. Layanan ini memfasilitasi pengguna yang ingin menitip barang tertentu dengan bantuan pelancong yang tengah bepergian ke suatu tempat.

Antonius mengungkapkan bahwa alasan lain ia mendirikan startup ini adalah pengalaman pribadinya yang seringkali mendapat titipan saat melakukan perjalanan dinas. “Waktu itu saya berpikir bila masalah ini akan sangat terbantu dengan aplikasi,” ungkap Antonius.

Berbasis peer-to-peer

Neetip membagi penggunanya menjadi dua kategori yaitu Tipper dan Helper. Tipper bertindak sebagai orang yang ingin menitip barang. Sementara itu, Helper merupakan pihak yang berkenan untuk dititipi. Pada dasarnya, layanan ini menerapkan konsep peer-to-peer yang memungkinkan pengguna untuk memposisikan diri sebagai Tipper atau pun Helper.

Untuk menggunakan layanan ini, Tipper bisa masuk ke bagian menu dan menentukan lokasi kota atau negara dimana barang yang diinginkan tersedia dengan akses Google Maps. Agar bisa lebih jelas dalam memaparkan spesifikasi barang, Tipper bisa memasukkan detail informasi dan foto.

Setelah semua informasi lengkap, nantinya Helper yang berada di daerah yang dimaksud akan mendapatkan notifikasi titipan. Selanjutnya, akan dilakukan kesepakatan antara Tipper dan Helper lewat chatroom. Kesepakatan yang dilakukan antara kedua pihak tersebut mencakup negosiasi untuk besaran tip dan waktu serah terima barang. Neetip

Sediakan layanan rekening bersama

Untuk melakukan pembayaran kepada Helper, Tipper harus menyetorkan uang terlebih dahulu lewat rekening yang dimiliki Neetip. Setelah proses berjalan, kedua pihak bisa menentukan waktu pertemuan untuk menyerahkan barang. Terkait pencairan dana, nantinya helper bisa menarik tagihan setelah tipper menerima barang.

Saat ini, Antonius mengungkapkan bahwa Neetip belum melakukan kerja sama dengan pihak manapun. Namun, pihaknya sedang berusaha untuk bisa bekerja sama dengan pihak agen perjalanan dan beberapa komunitas tour guide dan traveler.

Dengan jumlah tim sebanyak lima orang, Antonius mengklaim telah mendapatkan 4000 pengguna yang menggunakan layanannya sejak mulai beroperasi pada awal 2016. Pihaknya masih terus berupaya memperkenalkan Neetip melalui media sosial.

Lebih lanjut, Antonius mengklaim bahwa layanan yang dibesutnya pada awal tahun 2016 ini bisa digunakan di berbagai tempat di seluruh penjuru dunia kecuali China karena penggunaan Google Map tidak bisa diakses di negara tersebut.

Hingga saat ini, Neetip memiliki permintaan titipan sekitar lima hingga sepuluh dalam per hari dengan transaksi sekitar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu. Namun, Antonius menjelaskan bahwa masih mengalami kesulitan dalam memenuhi permintaan karena masih sedikitnya helper yang terdaftar dalam layanan. Untuk itu, ia berharap bisa menambah jumlah pengguna yang bergabung.

Neetip

“Pemintaan dari Tipper itu banyak macamnya dan biasanya datang dari tempat yang berbeda-beda. Jika semakin banyak pengguna maka faktor kemungkinan helper yang berada di tempat terkait maka akan lebih besar,” ungkap Antonius.

Strategi monetisasi

Terkait monetisasi, Neetip mengenakan biaya sebesar Rp10 ribu per transaksi. Ke depannya, pihaknya berencana akan menerapkan sebesar tiga hingga lima persen dari total nilai transaksi yang dilakukan. Sementara itu untuk masalah pendanaan, layanan ini masih mengandalkan modal dari kocek sendiri atau bootstrapping.

Lebih lanjut, pihaknya mengungkapkan masih melakukan pengembangan untuk sistem UI dan UX. Selain itu, akuisisi pengguna juga terus dilakukan untuk mempermudah tipper mendapatkan titipan yang diinginkan dari helper yang melakukan perjalanan.

Sementara itu, Neetip tidak hanya menjadi pemain tunggal yang fokus dalam layanan titip barang. Startup lainnya yang menyediakan layanan serupa yakni Bistip. Terkait prospek ke depannya, Antonius yakin layanan ini bisa berkembang.

“Layanan seperti ini seharusnya termasuk sharing economy. Jadi ke depannya pasti bagus. Terlebih lagi kebiasaan nitip menitip itu memang budaya Indonesia. Semoga Indonesia bisa memimpin untuk jasa sejenis,”pungkas Antonius.