Antonius Stefanus, Ciptakan Aplikasi Neetip untuk Mudahkan Titip-menitip Barang dan Oleh-oleh

Hitsss

06-09-2016

Neetip

Mudahkan antar pengguna yang ingin saling titip-menitip barang dan oleh-oleh, aplikasi Neetip pun diciptakan. Simak cerita lengkap dari founder-nya berikut.

Ide bisnis seringkali tak terbatas. Termasuk untuk urusan yang terbilang cukup ‘sepele’, seperti titip-menitip barang. Kultur menitip barang ini kerap terjadi, kala mengetahui ada kerabat atau teman sedang berpergian keluar kota atau negeri.

Tak terbanyangkan betapa repotnya kita, saat perjalanan travelling berubah menjadi kerepotan waktu permintaan titip-menitip datang. Di satu sisi, kita merasa tak enak untuk menolaknya, namun di sisi lain, kerepotan harus menjaga titipan tersebut berakibat usaha ekstra untuk membelikan, hingga menjaga selama perjalanan.

Peluang tersebut pun akhirnya dilirik oleh Antonius Stefanus, bersama rekannya untuk membuat aplikasi bernama Neetip. Ia meyakini, kebiasaan yang sudah membudaya tersebut diliriknya sebagai lahan usaha bisnis, karena belum pernah ada sebelumnya.

“Namun budaya titip-menitip ini punya kelemahan, yaitu harus menunggu kerabat atau orang yang kita kenal untuk berpergian ke tujuan tertentu,” ujar Antonius Stefanus, selaku Founder dan CEO Neetip, berbincang dengan Hitsss.

Oleh karena itu, berangkat dari persoalan tersebut, ia bersama rekannya mengembangkan aplikasi Neetip selama enam bulan, sejak tahun lalu. Setelah itu, pada Januari 2016, aplikasi Neetip resmi meluncur di Android dan iOS.

Interaksi tipper dan helper

Cara kerjanya terbilang sederhana. Pengguna sebagai penitip atau disebut tipper, bisa langsung mengarahkan di dalam peta, untuk daerah yang diinginkannya. Setiap daerah yang ingin diminta oleh-oleh, akan dipantau oleh pengguna lain yang bertindak sebagai helper atau penolong di daerah tujuan.

“Namanya juga menitip, maka sekalian jalan bareng dong. Untuk itu, jika pengguna yang melihat tersebut tidak sejalan pulang untuk membawa oleh-oleh, maka pengguna berhak untuk tidak mengambil pesanan tersebut,” papar Anton.

Untuk itulah, pengguna-pengguna yang berada di sekitar tempat itu, jika ingin membawa oleh-oleh dan sejalan pulang, dapat langsung mengambil pesanan tersebut. Setelah itu, akan ada chat room dan form khusus mengenai barang-barang titipan yang ingin dibeli.

Pembayaran menggunakan sistem credit dan top-up

Dalam membuat aplikasi ini, Anton juga membuat sistem yang mampu mengakomodir kebutuhan dua pihak tersebut. Termasuk untuk pembayaran yang menggunakan credit.

Menurutnya, pembayaran menggunakan credit menguntukan kedua belah pihak, ketimbang menggunakan uang tunai secara langsung. Keuntungan tersebut salah satunya mencegah terjadinya penipuan terjadi.

“Misal, saat penitip meminta sesuatu, dan yang diminta titip telah membelikan. Ternyata yang menitip malah hilang. Kami telah berusaha untuk mengantisipasi hal ini sebelumnya,” paparnya. Jadi jika yang menitip tak mempunyai credit, maka harus melakukan top-up atau mengisi credit yang telah tersedia melalui bank ataupun Paypal.

Pun begitu barang telah terbeli, credit yang sudah ditransfer tersebut belum otomatis masuk ke dalam rekening si penitip. Terdapat payment release oleh tipper, jika barang telah diterima.

“Hal ini memungkinkan kedua belah pihak tak ada yang dirugikan. Karena cara kerja aplikasi ini two ways alias yang menitip bisa jadi penitip. Begitupun sebaliknya,” lanjutnya.

Klausa barang dan salah beli

Lalu barang apa saja yang boleh dititipkan? Dalam hal ini, Anton pun telah membuat sebuah klausa. Menurutnya, barang yang tidak terlalu mahal dan besar, sebaiknya menjadi pilihan. Hal ini untuk menghindari hal-hal buruk yang tidak diinginkan terjadi.

Namun sejauh ini, barang paling mahal apa yang pernah menjadi titipan? Ia mengisahkan, “Paling mahal yang pernah kami terima ialah iPhone. Kami sebenarnya tidak merekomendasikan hal ini, karena berhubungan dengan jumlah bea yang perlu dibayar saat masuk ke Indonesia. Begitu juga sebaliknya,” katanya.

Lalu bagaimana jika terdapat kasus barang salah beli? Neetip pun tidak menutup mata terhadap hal ini. Menurutnya, selalu ada solusi untuk kedua belah pihak.

Yang pertama, dengan memeriksa chat history yang terjadi antara tipper dengan helper. Jika yang terjadi salah beli di penitip, maka barang akan dibantu dijual melalui marketplace online, seperti Tokopedia, dan lainnya.

Namun jika kesalahan terdapat yang dititipkan, maka uang akan kembali dengan dipotong sebesar Rp 10 ribu, sebagai biaya administrasi bagi Neetip. “Selalu ada solusi bagi kedua belah pihak, agar kasus-kasus tersebut bisa diselesaikan dengan baik,” katanya.

Rencana dan visi ke depan

Meski menarik, namun aplikasi ini terbilang terbatas jika hanya mengandalkan pengguna yang itu-itu saja. Dengan demikian, perlu menjaring sebanyak-banyaknya pengguna, agar semakin tersebar merata.

Untuk ini, Anton menjalin beberapa kerja sama dengan beberapa pihak sebagai promosi. Namun saat ini, dirinya lebih fokus untuk mengedukasi pengguna.

“Tantangan terbesar kami ialah mengajarkan kepada pengguna terutama dari sisi UX. Selain itu, berbagai masalah teknis dalam aplikasi, sambil jalan kami perbaiki. Wajar saja karena aplikasi jenis ini baru kami yang membuat,” katanya.

Dengan 2000 pengguna terdaftar, Neetip terus melakukan upaya untuk lebih memperluas jumlah pemakai. Sejauh ini, mereka berpromosi menggunakan beragam media sosial, seperti Facebook Ads, hingga promosi berbayar melalui influencer di media sosial yang berkaitan dengan travelling.

“Ke depan kami akan bekerja sama dengan beberapa pihak yang berhubungan dengan segmentasi travelling. Seperti Couchsurfing dan berbagai forum-forum traveller,” katanya. Meski menyasar kepada traveller lokal, tak tertutup kemungkinan juga bahwa traveller asing dapat menggunakannya jika ingin menitip barang dari Indonesia ke luar negeri.

Ke depan, Neetip juga akan berusaha fokus kepada pengembangan aplikasi yang sedikit berbeda. Misalnya, aplikasi untuk nebeng ataupun membuat courier service untuk mengantarkan barang yang dititipkan.

“Terkadang ada pengguna yang tidak ingin bertatap muka secara langsung, saat menerima titipan tersebut. Untuk itu, kami berencana ingin membuat semacam kurir atau dropbox point di tempat umum,” jelas Anton. (MTP/DI)